Banyak orang sering bilang kalau generasi Gen Z itu “males punya rumah” atau “nggak mikir masa depan”. Padahal kenyataannya, bukan mereka nggak mau beli rumah — tapi harganya sudah nggak masuk akal dibandingin sama pemasukan mereka. Jadi wajar kalau banyak Gen Z yang akhirnya merasa punya rumah itu seperti mimpi yang makin jauh.
Pertama, harga rumah naik jauh lebih cepat dari kenaikan gaji. Dalam 10 tahun terakhir, harga properti di banyak kota besar bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Sementara itu, kenaikan gaji kebanyakan pekerja muda paling cuma 5–10% per tahun. Jadi mau nabung segigih apa pun, tetap terasa berat buat ngejar harga rumah yang melesat terus.
Kedua, biaya hidup sekarang jauh lebih tinggi. Gen Z hidup di era di mana semuanya serba mahal: makanan naik, transport naik, sewa kos naik, bahkan biaya internet pun jadi kebutuhan wajib. Dengan pendapatan yang pas-pasan dan pengeluaran yang lumayan besar, ruang buat nabung jadi makin kecil. Belum lagi kalau tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya.
Ketiga, gaya kerja dan ekonomi sekarang juga berbeda. Banyak Gen Z kerja di industri kreatif, startup, atau freelance yang penghasilannya nggak selalu stabil. Sementara pihak bank biasanya butuh bukti penghasilan tetap buat ngasih KPR. Alhasil, meski bisa dibilang “cukup mampu”, mereka tetap kesulitan buat lolos syarat administrasi.
Baca juga : https://financialfitness.id/tips-anti-bokek-cara-mengatur-gaji-4-juta-untuk-hidup-tenang/
Keempat, uang muka (DP) rumah itu sendiri nggak kecil. Bisa 10–20% dari harga rumah. Rumah sederhana aja sekarang banyak yang harganya 300–500 juta. Artinya DP-nya bisa 30–100 juta. Buat anak muda yang baru kerja, angka segitu jelas berat banget. Bahkan kalau nabung 1 juta per bulan pun butuh waktu bertahun-tahun.
Kelima, banyak Gen Z punya prioritas keuangan yang berbeda. Mereka harus mikirin pendidikan, bayar cicilan kuliah, bantu orang tua, atau ngurus kebutuhan pribadi. Jadi wajar kalau beli rumah bukan jadi prioritas utama, bukan karena nggak mau, tapi karena realistis dulu.
Intinya, Gen Z bukan nggak mau punya rumah—mereka cuma hidup di zaman di mana harga rumah jauh lebih sulit dicapai dibanding generasi sebelumnya. Dengan kondisi ekonomi yang ketat dan biaya hidup tinggi, membeli rumah jadi tantangan besar. Jadi, sebelum nge-judge, mending kita ngerti dulu kenyataan yang mereka hadapi.

